Water is Every Where

Seorang pendeta dari negeri Belanda menjuluki tanah Sumatera Utara dengan sebutan Eden Land atau tanah surga. Julukan tersebut tampaknya tidak berlebihan, jika anda menyusuri jalan jalan antar kabupaten dalam provinsi itu, maka anda akan dihadapkan pada gugusan pepohonan, hamparan sawah, ladang yang menghampar subur nan hijau dan di selusupi oleh belahan ruas bumi yang dialiri air .

****** Continue reading

Lebah Besar Tau Jalan Pulang

 

JAKARTA, JUMAT – Tidak hanya burung merpati pos yang bisa menyampaikan surat kepada empunya dari jarak berpuluh-puluh kilometer. Lebah besar di Inggris juga hafal jalan menuju sarangnya hingga jarak 13 kilometer. Namun, hasil penelitian menunjukkan, hanya lebah pekerja yang punya kemampuan ini.

Kelompok peneliti dari Universitas Newcastle melakukan percobaan ini kepada 100 ekor lebah jenis Bombus terrestris. Masing-masing lebah diberi label bernomor.

Lebah-lebah tersebut kemudian diletakkan di berbagai lokasi yang tersebar di sekitar timur laut Inggris.dan membiarkannya kembali ke sarangnya. Satu buah kamera dipasang di dekat sarang untuk mengamati lebah-lebah yang berhasil kembali.

Hasil pengamatan awal menunjukkan bahwa lebah-lebah tersebut mencari sarangnya dengan jalur berbeda-beda. Namun, beberapa ekor lebah yang diletakkan di pusat taman Heddon on the Wall di Tyne Valley – berjarak sekitar 13 kilometer dari sarang – dapat kembali ke sarang dengan lancar.

“Literatur ilmiah yang ada menunjukkan bahwa lebah mencari makan hingga radius 5 kilometer dari sarangnya,” kata salah satu peneliti Steph O’Connor. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebah mungkin sanggup mencari makanan pada radius lebih dari 5 kilometer dari sarangnya.

Hanya sekitar 20 hingga 30 persen lebah yang berhasil kembali ke sarangnya. Namun, peneliti lainnya Mark O’Neill mengatakan bisa jadi lebah-lebah yang tidak kembali mati karena dimakan predator atau menabrak kaca mobil yang melaju di jalanan.

Lihat dan cium

Masih belum dipastikan bagaimana serangga tersebut mengatur arah terbangnya. Namun, sistem penglihatannya sepertinya paling berperan terutama untuk mengenali bentuk benda-benda di sekitarnya.

Sistem pemetaan ini juga melibatkan bau meskipun hanya berguna jika jaraknya kurang dari 2 meter. Misalnya, saat tawon telah mengosongkan nektar dari satu kuntum bunga, ia akan meninggalkan zat kimia yang baunya dapat memberitahu tawon lainnya bahwa tidak ada nektar lagi di sana.

Saat ini, para peneliti sedang mengamati jalur terbang tawon saat kembali ke sarang untuk memastikan seberapa besar pengaruh sistem penglihatan dan penciumannya. Sebab, di wilayah timur laut Inggris, variasi bau relatif lebih dominan daripada variasi bentuk bangunan dan lahan.

“Kami yakin daya jelajah lebah sangat sensitif terpengaruh banyak perubahan, misalnya pembangunan perumahan,” kata O’Neill. Dengan penelitian ini, lanjut O’Neill, kami ingin mengetahui apakah lebah lebih mudah mencari sumber makanannya pada kondisi lingkungan saat ini.

Lebah adalah salah satu hewan yang membantu penyerbukan bunga dengan menyebarkan tepung sari dari satu bunga ke bunga lainnya. Ada sekitar 25 spesies lebah asli Inggris dan Irlandia, namun jumlahnya menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, 5 di antaranya terancam punah.

Sumber: BBC
Penulis: Wah

Rahasia Jambul Reptil Terbang

 

JAKARTA, JUMAT – Reptil terbang yang hidup di zaman Dinosaurus memiliki jambul di kepalanya. Karena terlihat muncul saat reptil mulai tumbuh dewasa, mungkin jambul berperan dalam proses kedewasaan seksual.

Para pakar Universitas Portsmouth, Inggris memperkirakan bahwa jambul digunakan oleh reptil jenis Pterosaurus untuk menarik minat lawan jenisnya. Jambul yang tumbuh di kepala merupakan ciri perkembangan seksual Pterosaurus.

“Jambul menunjukkan kematangan seksual seperti halnya bulu ekor burung merak untuk menarik calon pasangan kawinnya,” kata seorang ahli paleobiologi Dr. Darren Naish. “Kelihatannya seperti lekukan jambul ayam jantan berukuran raksasa dengan struktur yang berwarna menyolok.”

Perkiraan para peneliti diambil berdasarkan fosil langka salah satu spesies Pterosaurus yang bernama Tupuxuara. Fosilnya ditemukan di bagian timur laut Brazil.

Fosil tersebut sangat langka sebab hanya ada beberapa fosil sejenis yang pernah ditemukan. Selain itu, kebanyakan fosil yang ditemukan merupakan tulang-belulang hewan yang telah dewasa.

Hasil pengujian yang dilakukan Naish dan koleganya Dr. David Martill menunjukkan bahwa fosil di Brazil berasal dari hewan yang sedang memasuki usia dewasa. Bukannya satu buah jambul segitiga, tengkorak kepalanya terdapat dua struktur jambul di tengkorak kepalanya.

Salah satu tumbuh dari ujung moncongnya dan lainnya dari bagian belakang kepala. Jambul yang tumbuh dari ujung moncongnya akan membesar ke arah belakang sehingga bersatu dengan jambul dari belakang kepala saat reptil dewasa.

“Ini merupakan temuan yang signifikan terutama membuktikan hubungan antara pertumbuhan jambul dengan kedewasaan seksual dan perannya dalam kehidupan seksual,” kata Naish. Selain itu, temuan ini juga menyingkap sifat-sifat Pterosaurus meskipun hanya dari bukti fosil yang sangat terbatas.

Sumber: BBC
Penulis: Wah

Atasi DBD dengan Tempalo

Atasi DBD dengan Tempalo

Pada kesempatan lalu, kita berbagi pengetahuan mengatasi DBD dengan cara 3 M dan fogging atau pengasapan. Cara ini dikenal dengan cara konvensional. Nach, sekarang kita akan berbagi pengetahuan lagi cara mengatasi DBD menggunakan musuh alami nyamuk Aedes aegypti. Secara sederhana yang dimaksud dengan musuh alami adalah hewan lain yang bisa menekan perkembangan nyamuk Aedes aegypti dengan cara memangsa telur-telur dan jentik nyamuk Aedes aegypti. Apa yach yang bisa menjadi musuh alami nyamuk Aedes aegypti?

Ikan?

Yup, ikan adalah hewan yang bisa menjadi pemakan telur dan jentik nyamuk Aedes aegytpi, sehingga nyamuk tida bisa berkembang biak dengan begitu jumlahnya akan menurun dan itu artinya penyakit DBD bisa dihindari.
Ikan apa sich yang dimaksud? Dulu, memberantas telur dan jentik nyamuk dengan ikan sudah lama dikenal. Ikan yang digunakan adalah ikan betok, ikan lele, ikan gabus, tapi karena ukurannya yang besar sering membuat air malah berbau amis. Nach, karena air menjadi amis maka kemudian ikan gabus, ikan lele, dan ikan betok diganti dengan ikan cupang, atau bahasa palembang nya “iwak tempalo” bahasa medan “ikan laga” dan dalam bahasa latin Trichopsis vittatus atau Osphromenus vittatus.
Iwak tempalo jantan biasanya digunakan anak-anak atau orang dewasa dalam permainan adu iwak. Ukuran nya paling besar 6,5 cm. Ikan ini hidup di air tawar. Warnanya bermacam macam, ungu tua, biru tua, merah tua, merah terang, biru kehijauan, hijau tua kehitaman, hitam, kuning kemerahan. Bentuk tubuhnya cantik, dan ekornya berbentuk macam macam pula, ada yang berekor runcing panjang, berbentuk kipas yang melambai, dan kipas yang terkembang, bagus kan? Itulah sebabnya ikan ini sangat digemari dikalangan anak-anak bahkan ikan ini dijual dalam botol kecil seharga 500- 1000 rupiah/ ekor. Nach kalau dibandingkan dengan menggunakan fogging untuk mengatasi DBD lebih baik menggunakan ikan, lebih ramah lingkungan dan lebih murah.
Cukup dengan meletakkan seekor ikan tempalo dalam tempat penampungan air berukuran sedang bisa mengatasi jentik nyamuk Aedes aegypti. Ikan tempalo ini juga bisa diletakkan dalam bak air kamar mandi, akuarium, kolam dipekarangan rumah dengan jumlah yang disesuaikan dengan daya tampung air, maka jentik nyamuk Aedes aegypti tidak bisa berkembang biak.Hmmmm, kamu pilih cara yang mana? 3 M, pengasapan atau dengan iwak tempalo?.

Luna&Mam

Ketika mentari menyeruak awan dengan sinarnya di suatu pagi.
Di sebuah rumah di ujung jalan terbuka jendela dan menyeruaklah seraut wajah bersahaja. Perempuan muda dengan selendang di kepala.
Terdengar sayup suara lembutnya memecah fajar yang menyingsing.

“ nak, ayo bangun, sudah pagi, mandi, sholat dan berkemas lah, nanti terlambat sekolah” dari balik selimut biru, tersibak untaian rambut ikal dan raut cantik anak perempuan, sejenak ia mengerjapkan mata nya yang bulat yang dinaungi bulu mata hitam dan lentik. Sambil memeluk bantal, tubuhnya mengkerut di bawah selimut, ingin tetap tidur dalam balutan selimut biru yang hangat.

Sebuah kecupan mendarat di pipinya yang halus, “ nak, ayo bangun, tidak baik anak perempuan bermalas malasan, ayo, nanti terlambat ke Sekolah”, kata sang ibu lembut.

“ hmmm, tapi Luna masih ngantuk mam…, bentar lagi yaaach, lima meniiiiit aja.” Rengek Luna sambil mengeratkan balutan selimut ketubuhnya.

“ Sayang, tidak boleh berkata begitu, besok bisa terucap lagi loch, terus besoknya terucap lagi, dan kamu akan tetap bangun terlambat, kalau terlambat ke Sekolah, kamu bisa ketinggalan pelajaran di jam Pertama, dan itu bisa membuat kamu tidak bisa mengikuti pelajaran dengan baik, nilainya bisa merah loch, bearti nanti Luna bisa ketinggalan kelas, dan itu artinya Luna menyia-nyiakan waktu dan kesempatan.” Kata sang ibu sambil mengusap rambut Luna dan menarik selimut yang membalut tubuh mungil itu.

“ Hmmmmm… tapi masih dingin mam, Luna bisa kedinginan kalo mandinya sekarang, sarapan aja ya mam, mandinya nanti ya mam….” rengek Luna manja.

“ Loch, sayang… kalo blom mandi itu artinya blom sikat gigi kan?, masa sarapan blom sikat gigi? Apa mau nanti nafasnya bau dan giginya berlubang?, ich jorok dan jelek dech…, mandi dulu ya sayang, mam sudah nyiapin air hangat buat mandi, jadi enggak kedinginan dan menggigil, ya?, ayo sini buka bajunya”, sang ibu membuka satu persatu baju anaknya, lalu memapahnya ke kamar mandi.

Di Kamar mandi telah tersedia air hangat yang sebelumnya di tambahkan cairan antiseptik agar Luna sehat dan terhindar dari kuman. Sang Ibu telah mengajarkan Luna untuk mandi sendiri sejak usia 3 tahun, menggunakan pembersih yang dipilih tidak mengandung zat berbahaya, pasta gigi yang telah dikonsultasikan dengan dokter cara dan aturan pakainya, dan dengan shampo yang dibikin sendiri dari daun mangkok yang banyak terdapat di pekarangan rumah.
Selesai mandi, Luna telah siap dengan seragam merah putih yang sebelumnya telah disetrika rapi. Rok merah berlipat di semua bagian sisi memanjang dan baju putih berlambang SD membalut tubuh mungilnya. Seutas dasi panjang berujung segitiga menggantung di lehernya dan sebuah topi seragam juga berwarna merah putih berada dalam pegangan tangan mungilnya.

“ Sudah siap sayang?, ayo kita sarapan, ini sudah mam bikinkan sarapan kesukaan Luna, nasi putih dengan ikan gurame, tempe goreng dan sayur bayam, ayo duduk sini, “ kata sang ibu sambil menarik kursi makan untuk anaknya.

Luna makan dengan lahap, ia begitu percaya kalau sarapan pagi bisa membuat ia tetap semangat dan siap untuk melewati hari indahnya di sekolah. Secangkir susu coklat dan sebuah jeruk yang dipetik Ibu dari kebun belakangmenjadi santapan penutupnya.

“ hmmmm enak, makasih mam, mmmmuach, sebuah ciuman dan pelukan hangat diberikan Luna pada sang ibu,”

“Hmmmm, iyach, baik-baik di sekolah yach, harus sayang sama teman dan hormat sama bapak dan ibu guru yach, nanti pulang sekolah mama jemput, dan ingat, Luna tidak boleh keluar pagar sekolah sebelum mama jemput, yach!”, nasehat sang ibu sambil mencubit kecil hidung mungil Luna.

“ Iya mam” , jawab Luna sambil meraih botol minum dan kotak makanannya dari meja. Kedua perempuan beda usia itu kemudian saling bergandengan menuju halaman rumah. Di halaman rumah sudah siap sebuah sepeda untuk mengantar Luna ke Sekolah yang jaraknya 20 menit dari rumah. Sang ibu, mendudukan Luna dengan baik di boncengan sepeda, kemudian Ia pun duduk di sadel, pinggangnya di peluk erat oleh tangan mungil Luna. Sang ibu mengayuh sepeda dengan perlahan, sambil berdendang kecil, diikuti suara Luna yang ikut melafalkan bait-bait lagu sang Ibu. Terdengar sayup bait lagu itu hingga ke ujung jalan lewat semilir angin “ …… bagi Indonesia” kemudian terdengar Luna melafalkan not lagu itu dengan semangat “ Do- Re- Mi- Fa- Sol- Mi- Do, Re Fa Mi Re-Do…….., angin membawa senandung dua perempuan Indonesia itu sampai jauh ke pelosok negeri, dengan harapan bahwa hari itu, besok dan lusa akan terus didendangkan oleh semua perempuan Indonesia, tidak hanya lagu tapi juga peri-laku.

Setahun Liana

22 April 2006 lalu Liana Indonesia Lahir.
22 April 2007 kini Liana Indonesia terus tumbuh
setelah hadir untuk anak-anak sekolah dasar dalam rumah baca, banyak hal yang kian berkembang. Kebutuhan belajar makin berkembang. Panti asuhan, pelataran mesjid dan halaman sekolah menaungi liana sepanjang hari.
Kini, Liana kecil mulai bercabang dan membagi ruang untuk siapa saja.
pertengahan tahun 2006 Liana indonesia menambah ruang baru untuk remaja mesjid dan anak panti. Akhir 2006 Liana Indonesia kembali menambah ruang pojoknya untuk pojok diskusi rimbawan minggu sore. Dan kini di tahun 2007 Liana bertambah usia. satu ruang lagi akan hadir dalam hangatnya rumah liana indonesia, ruang buku digital untuk pelajar dan mahasiswa akan hadir.

Semakin banyaknya ruang liana, ternyata tidak mudah untuk dikelola. Beberapa hal ternyata hampir terlupakan karena keterbatasan waktu dan tenaga. Website Liana Indonesia yang telah di pesan, hingga sekarang belum berani ditampilkan, rancangan masih sangat sederhana karena pengetahuan mengelola website masih sangat sedikit. Selain website, koleksi buku belum secara sempurna di katalog-kan, lagi lagi waktu menjadi kendala utama. Dan ada beberapa hal lagi yang masih sangat perlu perbaikan.

Bertambahnya ruang dan bilik di rumah baca Liana adalah refleksi dari ide, namun ternyata patut saya sadari ternyata mengelola rumah baca bukanlah ha yang mudah. Pengelolaan waktu dan tenaga harus lebih baik lagi.

Liana Indonesia dahulu lahir karena pendidikan dan lingkungan hidup, ada doa yang selalu dihaturkan bahwa kelak dan sampai kapanpun tetap diharap Liana Indonesia tetap menjadi rumah belajar lingkungan, dimanapun dan kapanpun.

Satu Tahun Liana
Satu Asa terpenuhi
Terimakasih Tuhan

:: Ditulis Oleh Sylvie Iriyani, S.Hut, M.Si
Pendiri Rumah Baca Liana Indonesia

Pendiri adalah Dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ilmu Lingkungan pada Universitas Muhammadiyah Palembang dan Asisten Peneliti Ekonomi Sumberdaya Alami dan Lingkungan di Sumatera Selatan.

Peri dan Hutan Berkabut

Di sebuah desa hiduplah seorang anak perempuan yang lugu. Sheila namanya. Ia senang sekali bermain di tepi hutan. Ibunya selalu mengingatkannya agar tak terlalu jauh masuk ke hutan. Penduduk desa itu percaya, orang yang terlalu jauh masuk ke hutan, tak akan pernah kembali. Bagian dalam hutan itu diselubungi kabut tebal. Tak seorang pun dapat menemukan jalan pulang jika sudah tersesat. Sheila selalu mengingat pesan ibunya. Namun ia juga penasaran ingin mengetahui daerah berkabut itu. Continue reading