Archive for November 7th, 2006
si Maung yang Kesepian

Adik-adik, buku ini berjudul si Maung yang Kesepian. Buku ini di buat oleh WCS dan Daun yang berada di Lampung. Buku ini adalah pemberian dari bapak Moch. Saleh, yang merupakan pendidik lingkungan di Indonesia.
Adik-adik, buku ini menceritakan tentang seekor anak harimau sumatera yang sedih karena ditinggal induknya. Induk harimau kecil ini mati karena ditembak oleh pemburu liar. Dan sekarang anak harimau ini tidak memiliki induk lagi. Anak harimau ini kemudian bertemu dengan seekor burung kecil yang menghiburnya dan memberikan semangat padanya.

Adik-adik, kalian bisa membaca buku ini kapan saja untuk mengetahui cerita kelanjutannya dan jangan lupa untuk merawat dan meletakkannya kembali pada tempat semula. Kita harus menjaga buku-buku kita agar tak rusak dan terus dapat dibaca oleh teman-teman yang lainnya.
Buku mengenai harimau sumatera di sini beraneka ragam, terdapat 5 seri buku mengenai harimau sumatera dan tentunya buku-buku itu bisa memberikan pengetahuan bagi kalian sehingga kalian bisa menghargai dan mencintai ciptaan Tuhan.
Selamat membaca dan semoga buku ini bisa membuat kalian terus bersemangat belajar.
Add comment November 7, 2006
Inget Ketupat Kita Kemarin…

Meski Lebaran dan Bulan Suci Tlah usai, namun kenangan membuat ketupat bersama di halaman sebuah mesjid tak urung mengurai senyum.
Kala itu, sebatang kelapa di simpang jalan ditebang oleh pemiliknya, kebetulan kami sedang bersantai di halaman mesjid sehabis subuh, hari minggu itu dipecah oleh teriak dan pekik gembira menyambut jatuhnya pohon kelapa, dan aksi tarik menarik daun kelapa terjadi secara spontan.
Meski begitu, kami tetap mengambil daun kelapa sesuai yang diijinkan pemiliknya, kami pun bersama seorang ibu yang juga tetangga kami sama sama membuat ketupat. Kalo mau jujur sich jumlahnya ga akan cukup buat kami semua, tapi kami sudah sangat bangga dengan bisa membuat 3 buah ketupat saja. Tiga buah ketupat berukuran sedang menjadi oleh-oleh kerumah kami masing-masing waktu itu, dan aku bisa melihat raut muka Liana Kids yang bersemu bangga karena hari itu bisa membuat ketupat.
Sering salah, dan serakan daun kelapa mengotori pelataran beranda halaman samping mesjid, tapi dengan penuh semangat akhirnya membuat ketupat jadi kegiatan yang asyik dan membanggakan. Meski hanya membuat ketupat, tapi ada damai diantara gelak tawa dan celoteh riang anak-anak.
Ahhhhh, senangnya.
Add comment November 7, 2006
Bu, Ijinkan Aku Sekolah di Dalam WC
Bacaan renungan bagi Pengunjung Liana Indonesia, menjadi bahan obrolan hangat para pendamping anak Liana Indonesia, berikut, Cerpen yang di kutip dari sumber sebagaimana tersebut pada bagian bawah laman ini.
******************************************************************
Namaku masih Ibnu, dipanggil orang dengan Benu!. Tahun 80-an, aku tinggalkan sekolah. Padahal, kata orang, sekolahku adalah bagian dari penjara suci di negeri ini. Tapi aneh, tempat-tempat yang selama ini kuanggap suci, sakral, atau orang-orang yang kuangap tak pantas melakukan tindakan kekerasan dan keji, justeru telah mengguruiku menjadi manusia amoral.
Bagaimana tidak? sejak sekolah, guruku sudah mengajari aku dengan kekerasan. Memukul, menjemur, menendang, bahkan salah seorang teman ada yang tangannya disundut rokok, hanya gara-gara lupa mengerjakan Pe-er.
“Puih! Sekolah macam apa itu!” aku mengumpat.
Makanya, sejak ia keluar sekolah, temanku itu, sampai sekarang, menjadi manusia pendendam, suka melakukan kekerasan terhadap teman sendiri. Kalau ini yang terus terjadi, berarti, sekolah hanya akan menciptakan manusia yang siap akan menjajah manusia lain. Ini tidak boleh terjadi. Kita harus merdeka dari penindasan siapapun. Guru, pejabat atau presiden sekalipun tidak boleh dan tidak berhak menjajah siapapun. Kalau semut saja bisa menggigit, kenapa aku harus diam?
Masih tahun 80-an. Aku keluar dari asrama, yang dianggap orang-orang sebagai penjara suci itu.
Bukan lantaran aku tidak lagi butuh Tuhan, atau karena aku berniat untuk memprotes kebijakan Tuhan, tetapi justeru karena para guru di sekolahku telah keluar dari aturan Tuhan.
Tahun kedua, menjelang aku keluar, di sekolahku sudah dibangun ratusan kamar VIP. Kamar ini diperuntukkan bagi anak-anak orang kaya, yang sudah tentu hidup serba enak dan tidak siap hidup susah di asrama. Belum lagi satu tahun berjalan, di sekolahku sudah terjadi kelompok-kelompok, antara kaya dan miskin. Antara penghuni kamar VIP dan penghuni kamar kelas gembel sepertiku. Bahkan, di dalam kelas-pun, murid-murid menjadi terbelah-belah. Barisan penghuni kamar VIP berbanjar dengan VIP. Sebaliknya penghuni kelas gembel berbanjar dengan kelas gembel. Padahal Tuhan tak membeda-bedakan antara satu sama lain.
“Oi, kalian tak perlu berpisah-pisah seperti itu. Disini kita sama, dia makan nasi, kita makan nasi, tidak ada yang berbeda,” teriakku suatu kalis aat istirahat siang, tanpa berniat sama sekali untuk menidentifikasi diri sebagai Tuhan.
Tapi, aku hanya sendiri. Hanya beberapa kawan saja yang kut mendukung aksi protes, untuk segera menutup kamar VIP. Bahkan sikap bersama, dari Wali murid kelas gembel yang menolak kamar VIP, tak juga merubah sistem di sekolahku. Kesenjangan antara kelas VIP dan kelas gembel terus terjadi.
Sentimen psiklogis dan juga jurang materi tak bisa dihindarkan, bahkan makin menular kemana-mana. Muncullah di sekolahku dua buah kantin. Kantin VIP dan kantin sederhana. Ternyata sekolahku makin detik makin parah. Dan pagi usai shalat subuh, aku kabari Ibu bahwa aku tidak lagi sekolah.
“Bu, aku ingin sekolah di dalam WC.”
“Ah, macam-macam saja kamu, Nak! Kenapa mesti di WC, sekolah lain kan banyak?”
“Iya, Bu. Sekolah lain mungkin tak jauh berbeda. Ada kesenjangan. Ada perkelahian. Ada suap menyuap untuk menambah nilai, atau masih saja ada penjajahan manusia atas manusia. Tanpa ada buku, guru mengancam tidak meluluskan ujian. Dan di sekolah, guru bukan manusia yang disegani lagi, tetapi menjadi monster yang menakutkan, seperti boneka jaelangkung.”
“Lantas apa yang akan kau peroleh, jika sekolah di dalam WC?”.
“Di WC, aku temukan persamaan hak antara si gembel dengan pejabat, Bu. Tak akan ada yang berak mengeluarkan emas atau perak, tapi tai, t-a-i. Ya semua, bukan kelas gembel atau pejabat, semua t-a-i.”
“Terus, selain itu, di dalam WC, tidak akan lagi kutemukan kesejangan miskin atau kaya, sejak kelas pinggiran sampai kelas presiden, tak ada yang berak sambil berdiri, semua jongkok atau duduk.”
Ibu sesaat tersenyum. “Ada-ada saja kau ini, Nak.”
“Kenapa Ibu mesti tersenyum, ini kenyataan lho, Bu.”.
“Iya, Ibu tahu, tapi kok kedengaranya lucu.”
“Memang Bu, ini lucu bagi siapa saja yang tidak pernah berpikir filosofi di dalam WC.”
Ibu makin tertawa; “WC kok dibuat Filosofi.”
“Lho, kenapa tidak, Bu. Aku masih ingat Bu, apa yang Ibu katakan, Nak jadikan setiap mahluk itu guru, dan setiap tempat itu sekolah. Makanya, di dalam WC-pun aku akan sekolah.”
Ibuku makin penasaran, kenapa aku memilih sekolah di dalam WC. Dan saat itu, aku belum tahu benar, apakah Ibu mengizinkanku atau tidak.
“Supaya Ibu tahu, kenapa aku meminta izin sekolah di dalam WC, karena di dalam WC aku merasa terdidik untuk disiplin. Sebab aku tidak akan berlama-lama melamun di dalam WC, kalau mamang aku selesai membuang tai. Sebab, Ibu pernah bilang, Nak, hidup ini tidak akan selesai dengan lamunan. Oleh sebab itu, Bu, aku juga tidak mau berlama-lama di dalam WC. Itu namanya disiplin Bu”
“Karena alasan itu, lalu kau ingin sekolah di dalam WC?”
“Ada lagi, Bu! Di dalam WC, aku dididik untuk tidak menciptakan fitnah. Sebab, setiap aku selesai berak, aku kan harus membersihkan kotoran. Ini artinya sama seperti yang pernah Ibu katakan padaku, Nak jangan sebarkan kotoran dan fitnah dimanapun kamu bermukim.”.
“Dan terakhir, Bu. Ini yang mungkin tidak pernah dirasakan banyak orang.”
“Apa itu?”
“Di dalam WC, aku menemukan kebesaran Tuhan.”.
“Hei, kenapa Tuhan kau bawa-bawa dalam WC!” Ibuku agak tersinggung.
“Jangan marah dulu, Bu. Ibu kan pernah bilang, Tuhan menebar pelajaran dimana-mana. Dan menurutku, di dalam WC pun, Tuhan sedang memberi simbol kebesaran-Nya.”
Sesaat, Ibu menghentikan merajut kain. Keningnya mengerut. Pertanda Ibu masih penuh tanda tanya. Aku menggeser lalu lebih mendekat dari posisi Ibu.
“Begini, Bu, aku tidak bisa membayangkan, berapa besar biaya untuk berobat bagi orang yang dalam tiga hari tidak bisa berak. Akan berapa juta rupiah harus dikeluarkan, jika aku ini tidak bisa mengeluarkan tai dari dalam perut! Makanya, setelah selesai berak, aku ingat kata-kata ibu, Nak sering-sering bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh Tuhan. Dan buatku, satu hari bisa berak satu kali saja adalah bagian kebesaran Tuhan yang patut kunikmati dan kusyukuri. Itulah, Bu, kenapa aku saat ini memilih untuk sekolah di dalam WC. Di WC kutemukan kedamaian, tidak ada protes, tidak ada suap menyuap, tidak ada pertengkaran, yang ada hanya kerelaan untuk duduk sesaat, membuang kotoran, demi kesehatan tubuh kita.”
“Ibu tidak setuju!”
Aku terperanjat.
“Kenapa, Bu, Kenapa?!”
“Jangan kau sekolah di dalam WC, tapi masuklah ke dalam Kakus.”
Aku masih binggung
“Apa bedanya WC dengan kakus Bu.”
“WC ada di setiap tempat termasuk di hotel-hotel dan rumah-rumah mewah, sementara kakus hanya ada di dusun dan pinggir sungai.”.
“Maksud, Ibu?”
“Nak, di dalam WC itu ada tisu, ada mesin pengering tangan, ada sabun, ada sikat dan peralatan moderen, yang banyak diproduksi oleh para pemilik modal.”.
“Lalu?”
“Jangan kita tergantung pada para pemilik modal itu hanya gara-gara soal asesoris WC. Makanya, kalau kamu sekolah di dalam WC nanti akan lupa dengan kedamaian dan kebebasan kakus yang keluar dari ketergantungan. Modalnya hanya penutup kain dan jongkok, lain tidak.”
“Supaya tidak tergantung dengan peralatan WC, aku harus bagaimana, Bu?”
“Ya, rebut pabriknya dan kuasai!”
“Lalu?!”
“Lalu bangun dan tebar kakus di setiap tempat, dan ajari mereka bagaimana membuat alat pembersih kakus. Kalau itu sudah kau rebut, nak, tak akan ada lagi penjajahan manusia atas manusia, tak ada lagi ketergantungan kita pada pemilik modal, kita akan mendiri, dan tiadk akan ada lagi kesenjangan. Yang ada hanya kedamaian, sama seperti kedamaian kita di dalam kakus.”
Aku kaget mendengar ajaran Revolusi WC dari Ibkuu. Aku baru sebatas menyerap Filosofi WC tapi Ibuku sudah sampai pada Revolusi WC.
Tiba-tiba perutku mual.”Aduh Bu, perutku, perutku.”
“Kenapa perutmu, Nak?”
“Aku…aku kebelet Bu. Aku mau ke WC, eh… ke kakus Bu.”
***
Dari dalam WC. Pukul : 03. 59 WIB-Palembang, 4 Mei 2003
1 comment November 7, 2006
Surat Bagi Hutanku
Untuk hutanku sayang
Bagi tiap-tiap dahanmu yang rindang
Pada buah-buahmu yang ranum
Tinggal harapan bumi yang kekal
Akan ku kenang selalu dikau
Dalam imaji warna-warni lima dimensi
Salam pengasuhku…
Kutemui dikau dalam impian kanak-kanak yang bermain di rerumputan
Berlarian dibawah pelukan dahan yang tumbang dimakan jamur dan rayap belatung
Wahai kawanku….
Kutemui dikau dalam rendevouz pacarku
yang sembunyi dibalik Batangmu
Kejutkan aku dalam bising gergaji mesin yang potong dirimu jadi sepuluh
Atau seratus
Duhai sahabatku…..
Kuwajahi dikau dalam panas dian yang membakar kulit-kulit kayumu
Panggang hitam tubuhmu hingga arang yang menyala dalam gelap asap
Sesaki dadaku dalam asma yang meradang
Wahai guruku…
Kuimpikan diriku dalam beton-beton belulang yang membentuk peradaban
Saat beribu insan berziarah ke makammu dengan bunga plastic berserakan
Diatas semen
Dalam tangisan orang-orang yang kau bagikan kenangan
Dan ditengah-tengah berita kepunahan dimata anak-anak masa depan yang
Terenggut dari haknya
Kuceritakan padamu keluh kesahku yang terlintas dalam tidur dan
Pikirku
Doaku bagimu adalah sejahtera
Semiga semua itu hanya mimpi
Bukan peringatan atau pertanda
Salam selamanya
Kawan dan sahabatmu
MANUSIA
Karya Jafrial (15 Tahun)
Jl. Yos Sudarso No 07 Rt 13 Lubuk Linggau
1 comment November 7, 2006
Hutanku
Hutanku yang indah
Hutanku yang permai
Penuh dengan bermacam-macam
Tumbuhan rerimbunan
Tapi…
Kini hutanku
Tak seindah dulu lagi
Akibat ulah manusia yang tak berbudi pekerti
Ya… Tuhan
Tolonglah kami
Agar hutan-hutan kami
Menjadi indah dan permai
Seperti dulu lagi
Karya : Dessi Safitri
Add comment November 7, 2006
Zamrud Khatulistiwa Merana
Sahabat…..
Jika kau lihat kearah sana
Hutan yang dulunya luas menghijau
Membentang bak hamparan permadani penyejuk mata
Telah berubah kelam kini
Sahabat….
Bilakah kau lihat ke sana
Beraneka satwa yang dulunya kian kemari
Tetes embun pagi yang senantiasa menitik
Pun membasahi tiap helai dedaunan hijau
Kini berangsur sirna dari pendanganmu
Galaukah hatimu sahabat…..
Melihat gumpalan asap yang membumbung tinggi diserta jilatan api
Yang dengan rakus melahap zamrud kebanggan kita
Risaukah dirimu sahabat….
Disaat panasnya membalut tubuh
Seraya merayap membakar hatimu
Relakah dirimu sahabat…..
Menyingkan lengan bajumu
Memadamkan api dihutan kita
Bersamaku, bersamamu, bersamanya, bersama-sama
Floren Valentina (14 tahun)
Komplek Griya damai Indah Blok P No 1 Kenten Palembang
3 comments November 7, 2006
Hutanku dimana…?
Bocah kecil diatas bukit
Mata memandang luas
Hati kecewa dalam pandangan
Pekat, tiada bernyawa
Bocah kecil diatas bukit
Diri terbawa dalam lamunan
Mendengar kicauan burung
Gemercik air
Iringi hembusan angin
Teringat aku akan hutan
Hijau penuh kehidupan
Seakan tiada kepalsuan
Bocah kecil diatas bukit
Diri tersentak dari lamuan
Menjerit hati melihat kenyataan
Paru-paru dunia semakin sedikit
Oh Tuhanku…
Apakah ini hukuman Mu
Hingga aku melihat jilatan api
Melalap hutanku penuh nafsu
Dimana lagi akan kulihat
Hutanku hijau penuh kehidupan
Dimana lagi akan kutemui
Permadani hijau hiasan bumi
Metty Agustini (14 tahun)
Jl. Perumnas Air Ruai Jl. Cerucuk No 158 sungai liat bangka
Add comment November 7, 2006
Memandang Kehidupan
Memandang relung-relung kehidupan
Aku tak tahu pasti apakah mungkin
Menjadi seorang tua yang tenang membaca Koran
Ditengah ributnya dunia kebakaran
Tidaklah lebih baik kita padamkan
Sijago merah sekarang juga
Selagi matahari belum tinggi
Atau…. Kupilih saja tenangnya duduk dikursi goyang
Saban pagi semangkuk susu dan setangkup roti
Sementara masih pula khawatir
Akan kepastian hari esok
Bukan tak mungkin Tuhan bertitah
Bertitah berhenti
Maka hutan-hutan habis
Hewan-hewan punah
Lalu apa yang dapat kita capai
Sedangkan bumi tak lagi pasti
Yang kutinggal hanya puing-puingnya saja
Kuteliti tanganku urat-urat saja
Tulang-tulangnya bias saja lenyap dengan tiba-tiba
Tak satupun kupunya selain doa.
Lely Susilawati (14 Tahun)
Rumah makan Moro Seneng Jl Raya Palembang Jambi Km 113 Sei Lilin MUBA
Add comment November 7, 2006
Kebakaran Hutan
Paru-paru dunia kini sudah rusak, kawan
Ratusan hektar hutan
Tlah lenyap dipandang mata
Hai….
Tangan-tangan yang telah merusak hutanku
Apa yang kau ambil dari hutanku
Hutan di negri ini
Dimana letak hati nuranimu
Sampai eganya kau
Membakar hutan di negeri ini
Kau
Membakar hutan
Demi kepentinganmu
Apakah kau tidak memikirkan
Akibat tang terjadi pada negri ini?
Keman burung-burung akan terbang
Kemana kijang-kijang akan berlari
Kemana ikan-ikan akan berenang
Sedangkan ekosistem mereka yang sudah rusak
Mengapa….
Mengapa kau lakukan semua ini…
Apakah kau juga tidak
Memikirkan nasib yang akan
Terjadi pada masyarakat dan dirimu
Karena hutan yang terbakar
Menimbulkan pencemaran udara
Apakah kau sadar akan perbuatanmu
Yang telah merusak kehidupan makhluk hidup
Apakah kau sadar akan pentingnya hutan
Bagi kehidupan masyarakat dan dirimu
Karya Prakoso Bhairawa Putra (14 TAhun)
Jl. Teuku Umar Blok a No 1 Sungai Liat Bangka (33255)
6 comments November 7, 2006
Hutan Kita
Bumiku begitu indah
Hijau dan rimbun hutannya
Biru air sungainya
Subur akan tanahnya
Berlimpah ruah hasil pertaniannya
Kini bumiku begitu gersang tak ada lagi hijau pepohonan
Telah habis terbakar, air sungai telah tercemar
Burung-burung tak lagi berkicau
Polusi asap bertebaran
Bumiku tak sejuk lagi
Bumiku tak ramah lagi
Karena ulah orang-orang yang serakah dan liar
Karya Mulkan (10 Tahun)
Alamat : Jl. Nasjah Komp. RSS Perumdam No 14-15 Km 7 Palembang
Add comment November 7, 2006


























