Apa sich Home Schooling itu?

December 18, 2006

null
Homeschooling (sekolah rumah) saat ini mulai menjadi salah satu pilihan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Pilihan ini terutama disebabkan oleh adanya pandangan atau penilaian orang tua tentang kesesuaian bagi anak-anaknya. null

Bisa juga karena orang tua merasa lebih siap untuk menyelenggarakan pendidikan bagi anak-anaknya di rumah. Ini banyak dilakukan di kota-kota besar, terutama oleh mereka yang pernah melakukannya ketika berada di luar negeri.
Sekolah rumah, menurut Ella Yulaelawati, direktur Pendidikan Kesetaraan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orang tua atau keluarga di mana proses belajar mengajar berlangsung dalam suasana yang kondusif.

Tujuannya agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal. Rumusan yang sama dikemukakan oleh Dr Seto Mulyadi, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, saat keduanya tampil berbicara dalam sebuah seminar di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pembelajaran kreatif
Ella mengakui, ada beberapa alasan orang tua di Indonesia memilih sekolah rumah. Antara lain, dapat menyediakan pendidikan moral atau keagamaan, memberikan lingkungan sosial dan suasana belajar yang baik, dan dapat memberikan pembelajaran langsung yang konstekstual, tematik, nonskolastik yang tidak tersekat-sekat oleh batasan ilmu.

Menurut Seto, sekolah rumah memiliki keunggulan karena bimbingan dan layanan pengajaran dilakukan secara individual. Proses pembelajaran lebih bermakna karena terintegrasi dengan aktivitas sehari-hari. Lebih dari itu, waktunya pun lebih fleksibel karena dapat disesuaikan dengan kesiapan anak dan orang tua.

Seto mengatakan, menyelenggarakan sekolah rumah menuntut kemauan orang tua untuk belajar, menciptakan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan, dan memelihara minat dan antusias belajar anak. Sekolah rumah juga memerlukan kesabaran orangtua, kerja sama antaranggota keluarga, dan konsisten dalam penanaman kebiasaan.

Seto menampik sejumlah mitos yang dinilainya keliru tentang homeschooling selama ini. Misalnya, anak kurang bersosialisasi, orang tua tidak bisa menjadi guru, orang tua harus tahu segalanya, orang tua harus meluangkan waktu 8 jam sehari, waktu belajar tidak sebanyak waktu belajar sekolah formal, anak tidak terbiasa disiplin dan seenaknya sendiri, tidak bisa mendapatkan ijazah dan pindah jalur ke sekolah formal, tidak mampu berkompetisi, dan homeschooling mahal. `’Itu keliru,” ucapnya.

Teman belajar
Lalu, apa yang yang perlu diperhatikan oleh orang tua dalam menyelenggarakan sekolah rumah? Seto mengatakan, orang tua harus menjadikan anak sebagai teman belajar dan menempatkan diri sebagai fasilitator. `’Orang tua harus memahami bahwa anak bukan orang dewasa mini,” tuturnya.

Anak, kata Seto, perlu bermain. Itu yang perlu dipahami oleh orang tua. Karena itu pula, orang tua tidak boleh arogan dengan menempatkan diri sebagai guru, tapi belajar bersama. Kalau tidak siap dengan itu, menurut Seto, lebih baik jangan menyelenggarakan sekolah rumah.

Orang tua, kata Seto lagi, tetap perlu terus menambah pengetahuan. Tidak mesti menguasai semua jenis ilmu. Yang penting, memiliki pemahaman tentang anak. Bila orang tua kurang mengerti pelajaran biologi atau matematika, misalnya, orang tua bisa mendatangkan guru untuk pelajaran tersebut dan belajar bersama anak. Dengan demikian, anak akan merasa tidak lebih rendah, tapi sebagai sahabat dalam belajar.

Bagaimana dengan kedua orang tua yang bekerja sehingga merasa tidak punya waktu untuk memberikan pembelajaran kepada anak dalam menyelenggarakan homeschooling? Seto mengatakan, itu tidak boleh menjadi alasan.

Sesibuk apa pun orang tua, tetap harus punya waktu untuk anak. `’Kalau tidak punya waktu, jangan punya anak,” ucap psikolog yang juga menyelenggarakan homeschooling bagi anak sulungnya itu.

Pembelajaran sekolah rumah sebaiknya menyesuaikan dengan standar kompetensi yang telah ditentukan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Ini agar sejalan dengan pertumbuan dan kemampuan anak, di samping dapat diikutkan dalam evaluasi dan ujian yang diselenggarakan secara nasional. Standar kompetensi menjadi panduan yang harus dimiliki seorang anak pada kelas tertentu. Anak kelas VI SD atau setara, misalnya, minimal sudah harus menguasai pelajaran matematika sampai batas tertentu pula. Standar kompetensi ini, kata Seto, dapat diperoleh di Dinas Pendidikan yang ada di daerah masing-masing.

Evaluasi bagi anak yang mengikuti homeschooling dapat dilakukan dengan mengikutkan pada ujian Paket A yang setara dengan SD atau Paket B setara SMP. Pada dasarnya, kata Seto, dapat pula dilakukan dengan menginduk ke sekolah formal yang ada untuk proses evaluasi. Menurut dia, harusnya ini bisa dilakukan karena sekolah rumah bukan sekolah liar. Homeschooling seusai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas).
(idionline/RoL)

Entry Filed under: Berita Nusantara. .

5 Comments Add your own

  • 1. hantu pendidik  |  January 16, 2007 at 5:03 am

    bak mencari celah dari kesumpekan, begitulah ungkapan yang tepat bagi pendidikan kita. seperti pendididkan alternatif. seperti home schooling.

    tapi saya masih rancu dengan muatan yang diberikan orang tua terhadap anaknya, terutama mengenai “ingin jadi apa anak nantinya?”. bagi saya yang masih punya orang tua, terkadang dia (orang tau saya) sering memaksakan kehendaknya, ingin apa saya nantinya. capek deh… saya tidak tahu apakah home schooling ini bisa menjamin anak2 untuk bebas dari belenggu orang-orang dewasa.

    yang kedua, saya sanksi pada home schooling sebagai pendidikan alternatif mampu mencerdaskan kehidupan bangsa. kata “bangsa” sendiri adalah banyak orang. masih banyak kelas jelata yang tak mampu mengenyam pendidikan… tapi kalau home schooling orientasinya hanya berpusat pada ego seseorang/anak, sudahi saja.

    Reply
  • 2. ***  |  October 17, 2007 at 3:31 am

    siang , aku sedang mencari bagan untuk tugas skripsi mengenai home schooling

    Reply
  • 3. yo_si  |  August 9, 2008 at 1:35 am

    homeschooling memotivasi pelakunya untuk hidup secara individual. Seperti yang kita tahu, manusia adalah makhluk sosial bagaimana anak2 yang mengikuti homeschooling ini berinteraksi dengan masyarakat sekitarnya? Sedangkan proses belajar mereka saja dilakukan diruangan tertutup yang diberi nama rumah.
    Homeschooling juga merupakan ajang mengeksklusifkan diri, karena pada umumnya peserta homeschooling ini adalah anak keluarga berada.

    Reply
  • 4. indah  |  January 6, 2009 at 5:06 am

    salam kenal semua.
    aku indah.saya belum berkeluarga tapi saya tertarik dengan masalah home schooling.menurut home schooling ada bagus dan juga jeleknya.bagusnya anak bisa lebih konsentrasi dalam menyerap semua pelajaran yang di berikan karena dilakukan di rumah sendiri.tapi jeleknya anak-anak tidak sosialisasi dengan orang sekelilingnya.dan mereka cenderung lebih rgois dan pemalu jika besar nantinya.

    Reply
  • 5. ihsan sazali  |  June 7, 2009 at 2:20 pm

    akhir-akhir ini muncul yang namanya home scholing (sekolah rumah)
    tapi apakah munkin semua itu dapat dinikmati oleh orang yang tidak mampu.
    sekarang semua orang pengin mudah, akan tetapi kemudahan itu hanya dinikmati oleh sebagian orang. menrut saya itu tidak adil……………

    Reply

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Pages

a

Recent Posts

Top Posts

komentar

briezkiey on Metamorphosis
rokas almanar on Rumah Baca Liana Indonesi…
murder on Kancil si Pencuri Ketimun
ega on Yuuk, Menyimak apa itu Gunung…
saf123 on Metamorphosis

arsip

 

December 2006
M T W T F S S
« Nov   Apr »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

statistik

Meta

Ayo... bermain...!

Blogroll

Sahabat

Watch Me...!

Top Clicks

Spam Blocked

Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

Flickr Photos

Cardiac

310/365 November 6, 2009

.

More Photos

Categories

Feeds

Tags

Categories

Category Cloud

1 Baca,Simak,Ceritakan! Berita International Berita Nusantara Blogroll Cerita yuuuk Hewan Ini Punyaku! Orang Tua Pendidikan Lingkungan Sahabat Tokoh Untukmu Pahlawan What and Who