Cermati, pesan dalam permainan…!

 

Dunia anak adalah dunia bermain, setidaknya ungkapan tersebut mengandung makna yang sangat berarti pada kenyataannya, bahwa memang masa kanak-kanak adalah masa bermain.  Jika kita mengingat kembali masa kecil, tentu segurat senyum akan tersungging di bibir, karena memang bermain dalam sebuah permainan masa kecil adalah salah satu kenangan terindah dalam hidup kita.  Bermain adalah faktor penting dalam mempersiapkan anak untuk bertanggungjawab, bermain menerangkan aktivitas yang dilakukan anak karena apa yang mereka rasakan.  Bermain adalah tanggapan terhadap hasrat, kehendak dan keinginan[1].  Bermain, bermain dan bermain, itulah anak anak, tak peduli dimana pun tempatnya, dirumah, pematang sawah, pantai, pelataran teras sekolah, taman, pinggiran sungai, kebun, di desa, di pedalaman, di kota, dimana-mana bahkan kebun tetangga sekalipun, dan masih banyak lagi tempat bermain yang tersedia buat mereka.

 

Beragam tempat bermain juga divariasikan dengan berbagai permainan masa kecil yang juga sangat beragam.  Mulai dari bermain petak umpet, hom pim pah, pocong-pocongan, boneka, perang-perangan, kelereng, layang layang, patung-patungan dan masih banyak lagi.  Berbagai permainan pun memiliki anggota bermain yang beragam jumlahnya, dari yang memiliki anggota bermain yang sedikit hingga anggota yang banyak.  Kalaulah kita perhatikan dengan seksama sesungguhnya bermain merupakan media kecerdasan social yang tak boleh dianggap remeh.  Lihatlah dan kenanglah, pada saat anak-anak berkumpul dan hendak memulai sebuah permainan, ada sebuah aktivitas yang mengandung nilai saling menghargai pendapat antar teman, menghormati pendapat orang lain, memberikan kesempatan mengemukakan pendapat, menempatkan diri untuk mendengar orang lain dan akhirnya sama sama memutuskan akan bermain apa, dan siapa melakukan apa.   Meski terkadang seorang anak selalu hendak menjadi yang “didengar” yang “dilihat” dan yang “dipatuhi” namun kesemuanya itu ada konsekuensi social yang berlaku diantara mereka.  Kita akan melihat dengan jelas jikalau salah seorang anak memiliki sifat seperti yang disebutkan itu maka akan ada sikap kontra dari yang lainnya, bahkan mungkin ada sikap “menolak” dari mereka yang akhirnya berujung pada “ tak kawan lagi”.  Sederhana memang, namun tampaknya semua itu sungguh sungguh berperan dalam membentuk karakter seorang anak dimasa mendatang. 

 

Selain pada aktivitas awal dalam memulai permainan, kita juga akan mendapati sikap-sikap luhur lainnya selama permainan berlangsung.  Seperti dalam permainan “masak-masakan”  dimana sekelompok anak mencoba membentuk komunitas layaknya di sebuah perkampungan, sikap saling tolong menolong pada saat salah seorang penduduk kampung mengalami musibah maka yang lainnya akan serta merta membantu, ketika seorang anak ingin membeli permen dan tidak punya uang ada tetangga yang kebetulan lewat memberikan permen.  Meski ini tampak sangat sederhana, namun dalam pemikiran anak-anak tentu ini lahir dengan apa adanya, mengalir begitu saja, tanpa ada yang memaksa, karena dalam permainan yang mereka putuskan bersama, mereka pun memiliki kemerdekaan untuk membuat seperti apa proses permainan itu berjalan.  Mereka bebas memutuskan dengan musyawarah.  Permainan anak-anak yang sepatutnya jadi cermin ketika dewasa.

 

Keputusan, apakah arti kata keputusan itu bagi anak anak? Dan mengapa itu perlu dilakukan dengan penuh rasa merdeka?.  Iklim dimana anak-anak diharapkan untuk mengambil keputusan harus diciptakan di dalam lingkungan kehidupannya.  Anak-anak membuat keputusan setiap hari.  Salah satu kriteria pertumbuhan seseorang adalah sadar atas keputusan-keputusannya ini dan cara keputusan itu dibuat.  Mampu membuat keputusan dengan baik adalah faktor utama dalam mengembangkan rasa mampu atau kendali atas keadaan dalam hidup seseorang.  Hal itu perlu untuk memperkuat rasa harga diri dan nilai dirinya[2].   Jika demikian adanya, lantas apa makna dari keputusan serta proses memutuskan itu?.  Meski hanya dalam permainan, dan meski orang dewasa menganggap bahwa keputusan dalam bermain pada masa kanak-kanak tak lebih hanya ”bermain” namun sesungguhnya keputusan tersebut adalah wujud dari sebuah mata rantai yang kelak akan menjadi sebuah ”tanggungjawab”.  Keputusan yang kelak harus dilanjutkan pada sebuah penerapan yang pada hakekatnya adalah sebuah tanggungjawab.  Tanggungjawab yang ketika dewasa akan menjadi sebuah inti dari pemecah persoalan bagi dirinya dan bagi orang lain disekitarnya, ia sebagai makhluk sosial.  Jika kita kembali pada petikan proses membuat keputusan pada aktivitas bermain anak-anak diatas sebelumnya maka sejatinya nilai nilai dimana sebuah keputusan untuk tanggungjawab itu diambil jika[3] :1.       Anak-anak tahu bagaimana membuat keputusan, dan keputusan baik yang mereka buat diperhatikan serta didukung dengan penghargaan yang layak2.       Orang dewasa (orang tua dan guru)  menyadari keputusan yang dibuat oleh anak dan memastikan bahwa kesempatan untuk membuat keputusan selalu ada.  Orang dewasa harus menciptakan iklim yang menekankan tanggungjawab individu dan menghilangkan sikap menyalahkan keragu-raguan serta tindakan tidak bertanggungjawab.3.       Orang dewasa (orangtua dan guru)  tidak membuat keputusan yang bisa di buat oleh anak-anak.  Membuat keputusan untuk anak merusak kemampuannya untukbertanggungjawab. Beberapa kalimat yang berkaitan dengan pengambilan keputusan dan disertai dengan tanggungjawab itu sering kali terdengar diantara anak anak seperti, ” ayo kita main perang-perangan di kebun pamanku, tapi hati-hati nanti kena tanaman cabe yang ditanam bibi”.  Kalimat itu merupakan ajakan sekaligus ajakan berisikan permintaan persetujuan dengan berisikan tanggungjawab agar sama sama menjaga sikap dan gerakan agar tidak merusak tanaman cabe yang ditanam oleh bibi.Anak-anak dan dunia bermainnya adalah sebuah proses pembentukan karakter dimasa datang, wajib bagi kita semua untuk memberikan perhatian dan pengawasan yang baik.  Anak-anak Indonesia adalah generasi bangsa Indonesia, menjaganya adalah kewajiban setiap orang Indonesia.  Mari sishkan waktu untuk memberikan perhatian dan cinta kasih bagi mereka untuk menjadikan mereka sebagai tokoh bangsa yang bertanggungjawab dan berguna bagi nusa bangsa. 


[1] Melatih Anak Bertanggungjawab.  Harris Clemes, Ph.D&Reynold Bean,Ed.M

4 thoughts on “Cermati, pesan dalam permainan…!

  1. Koen says:

    Sayangnya sekarang iklimnya beda, ya? Saya pernah memperhatikan beberapa anak di sekitar lingkungan saya. Anggap saja TK. orang tuanya sekarang menganggap bermain itu nggak belajar. Jadi belajarnya dianggap kalau sudah baca buku, bikin PR atau menghafal. Lebih kacau lagi di TK sekarang banyak yang mengajarkan materi yang sebenarnya belum waktunya disampaikan, misalnya membaca. Jadinya porsi bermainnya lebih kecil. Padahal bermain kan juga media belajar? Dengan bermain, anak juga belajar bersosialisasi, mandiri, berani mengambil keputusan, tenggang rasa nggak menang sendiri karena melibatkan banyak anak, kreatif dan disiplin (kalau permainannya ada aturan tertentu yang harus dipatuhi) dan sportif karena pasti ada menang kalah. Harusnya materi yang seperti itu dan bukannya materi menulis yang lebih ke teknik. Tapi banyak orang tua yang bangga kalau anak TK-nya sudah bisa menulis dan membaca. Kalau kita ingat dulu di TK kita kan nggak ada PR. Kok sekarang ada ya? Malah bingung aku. Khawatirnya kalau di TK materinya sudah sama dengan di SD, anak jadinya malah bosan waktu sekolah di SD karena materinya sama. Mereka juga kehilangan waktu bermain yang di TK malah dipangkas dan dipakai untuk pelajaran membaca tulis. Ironisnya lagi beberapa SD membuat peraturan yang mewajibkan anak yang mendaftarkan diri sudah harus bisa membaca dan menulis. Nah lo! Kacau kan?

  2. Marwan Azis says:

    Memang anak-anak masa yang paling indah, karena kita belum dibebani oleh berbagai macam beban kehidupan.
    Namun kalau saya melihat perkembangan anak-anak sekarang, dengan kemajuan informasi terutama perkembangan media TV, anak-anak menjadi cepat dewasa,seiring dengan perkembangan arus informasi media terutama TV. Anak-anak sekarang terutama anak-anak Kota atau sudah terjangkau aliran informasi Televisi lebih banyak waktu nonton, anak-anak begitu cepat tahu tentang pacaran dan sebagainya, tak hanya itu acara TV juga kurang memberikan aspek pendidikan untuk mendukung perkembangan anak. Disini lah peran orang tua sangat diharapkan.

  3. timpakul says:

    hmm… anak….😀

  4. Yuli says:

    Syl.. aku pengin kasih comment secara umum aja yah.. Secara umum, bagus, cantik, hijau, teduh.. Kalo dilihat dari pemilik blog ini pasti orangnya suka hal2 yang hijau. ya pastilah All about green gitu loh… Cuma.. kalo boleh menambahi, menurutku akan lebih bagus kalo blognya ditulis pake tulisan yang warna-warni dan bentuk tulisannya pun yang beda2.. Mungkin ada hal2 yg penting bisa di bold ato tulisannya dibesarin, biar orang bisa lebih tertarik untuk baca lagi.

    Ok.. Bagus and sukses buat loe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s