Merdeka! [atas nama kasih bunda]

 

   

“ Kasih  Ibu sepanjang  jalan, sebuah ungkapan  yang nyata adanya.  Kasih ibu, sebuah curahan perasaan terdalam dari tiap perempuan (ibu) kepada buah hati yang tentu amat disadari tak hanya sebagai generasi penerus tapi juga amanah dari sang pencipta.  Maka wajarlah bila kasih ibu sepanjang jalan ini pun telah memerdekakan jiwa sang buah hati.” 

Mungkin belum semua perempuan merasakan bagaimana menjadi seorang Ibu.  Namun, menjadi seorang anak tentu adalah awal dari kehidupan manusia. Ibu, sosok perempuan yang paling berjasa bagi lahirnya manusia di muka bumi.  Kalaulah kita  membayangkan sejenak betapa rengkuhan dan pelukan seorang ibu telah menyambung benang-benang kehidupan hingga menjadi sepanjang saat ini maka tentu kita pun akan semakin menyadari bahwa nyata adanya bahwa kasih ibu takkan mampu terbalaskan.  Ibu, seorang perempuan yang dengan kesabaran dan kasihnya memberikan cinta tanpa pamrih, memberikan dekapan, menghangatkan meski ia sendiri dalam dingin beku gulita malam.  Masih banyak lagi, hingga akhirnya hadirlah pahlawan, hadirlah pejuang, hadirlah pengabdi, hadirlah pemimpin arif dan bijak lagi bestari.  Semua itu tak urung karena adanya kasih yang selau tercurah sepanjang waktu dari hati murni sang Ibu.Sejak dalam kandungan, ajaran tentang kemerdekaan pun telah ia berikan.  Bagaimana tidak, perih sakit dan ngilu ia rasakan untuk memberikan kebebasan kita bergerak selama berada dalam rahimnya.  Darah dan erang kesakitan ia lewati demi memberikan kehidupan.  Kala itu pecahlah hening malam, pagi, dan hiruk pikuk siang karena tangis kemerdekaan dari bibir mungil setiap bayi yang tentunya itu adalah kita dahulu.  ”Merdeka lah anakku!, lihatlah hijau nya Nusantara, birunya samudra dan hiruplah udara diantara sinar mentari!, Merdekalah Anak ku, dan semoga kelak engkau berguna bagi negeri ini.  Merdekalah anak ku!”.Seru dan ucap kemerdekaan itu lah yang kini menghadirkan jiwa jiwa yang tiada pernah berprasangka bahwa dirinya belum merdeka.  Kemerdekaan yang sejati, dimiliki oleh jiwa yang sejati, bukan jiwa yang selalu memandang sinis arti dan makna serta eksistensi kemerdekaan bagi orang lain terlebih bagi dirinya sendiri.Sekilas petikan bahagia dalam pelukan ibu dalam suasanan Kemerdekaan yang kami hayati di rumah ini adalah ungkapan syukur betapa kasih seorang ibu sungguh menjadikan kami merasa bangga dan semangat serta bunggah didada dengan teriakan patriotik ”Merdeka!”.  

Dirgahayu Kemerdekaan RI yang ke 61

Anak-anak Liana IndonesiaDari sebuah lapangan kampung RT 45 Kelurahan Srijaya16 Agustus 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s