Bu, Ijinkan Aku Sekolah di Dalam WC

Bacaan renungan bagi Pengunjung Liana Indonesia, menjadi bahan obrolan hangat para pendamping anak Liana Indonesia, berikut, Cerpen yang di kutip dari sumber sebagaimana tersebut pada bagian bawah laman ini.

******************************************************************
Namaku masih Ibnu, dipanggil orang dengan Benu!. Tahun 80-an, aku tinggalkan sekolah. Padahal, kata orang, sekolahku adalah bagian dari penjara suci di negeri ini. Tapi aneh, tempat-tempat yang selama ini kuanggap suci, sakral, atau orang-orang yang kuangap tak pantas melakukan tindakan kekerasan dan keji, justeru telah mengguruiku menjadi manusia amoral.

Bagaimana tidak? sejak sekolah, guruku sudah mengajari aku dengan kekerasan. Memukul, menjemur, menendang, bahkan salah seorang teman ada yang tangannya disundut rokok, hanya gara-gara lupa mengerjakan Pe-er.

“Puih! Sekolah macam apa itu!” aku mengumpat.

Makanya, sejak ia keluar sekolah, temanku itu, sampai sekarang, menjadi manusia pendendam, suka melakukan kekerasan terhadap teman sendiri. Kalau ini yang terus terjadi, berarti, sekolah hanya akan menciptakan manusia yang siap akan menjajah manusia lain. Ini tidak boleh terjadi. Kita harus merdeka dari penindasan siapapun. Guru, pejabat atau presiden sekalipun tidak boleh dan tidak berhak menjajah siapapun. Kalau semut saja bisa menggigit, kenapa aku harus diam?

Masih tahun 80-an. Aku keluar dari asrama, yang dianggap orang-orang sebagai penjara suci itu.

Bukan lantaran aku tidak lagi butuh Tuhan, atau karena aku berniat untuk memprotes kebijakan Tuhan, tetapi justeru karena para guru di sekolahku telah keluar dari aturan Tuhan.

Tahun kedua, menjelang aku keluar, di sekolahku sudah dibangun ratusan kamar VIP. Kamar ini diperuntukkan bagi anak-anak orang kaya, yang sudah tentu hidup serba enak dan tidak siap hidup susah di asrama. Belum lagi satu tahun berjalan, di sekolahku sudah terjadi kelompok-kelompok, antara kaya dan miskin. Antara penghuni kamar VIP dan penghuni kamar kelas gembel sepertiku. Bahkan, di dalam kelas-pun, murid-murid menjadi terbelah-belah. Barisan penghuni kamar VIP berbanjar dengan VIP. Sebaliknya penghuni kelas gembel berbanjar dengan kelas gembel. Padahal Tuhan tak membeda-bedakan antara satu sama lain.

“Oi, kalian tak perlu berpisah-pisah seperti itu. Disini kita sama, dia makan nasi, kita makan nasi, tidak ada yang berbeda,” teriakku suatu kalis aat istirahat siang, tanpa berniat sama sekali untuk menidentifikasi diri sebagai Tuhan.

Tapi, aku hanya sendiri. Hanya beberapa kawan saja yang kut mendukung aksi protes, untuk segera menutup kamar VIP. Bahkan sikap bersama, dari Wali murid kelas gembel yang menolak kamar VIP, tak juga merubah sistem di sekolahku. Kesenjangan antara kelas VIP dan kelas gembel terus terjadi.

Sentimen psiklogis dan juga jurang materi tak bisa dihindarkan, bahkan makin menular kemana-mana. Muncullah di sekolahku dua buah kantin. Kantin VIP dan kantin sederhana. Ternyata sekolahku makin detik makin parah. Dan pagi usai shalat subuh, aku kabari Ibu bahwa aku tidak lagi sekolah.

“Bu, aku ingin sekolah di dalam WC.”
“Ah, macam-macam saja kamu, Nak! Kenapa mesti di WC, sekolah lain kan banyak?”
“Iya, Bu. Sekolah lain mungkin tak jauh berbeda. Ada kesenjangan. Ada perkelahian. Ada suap menyuap untuk menambah nilai, atau masih saja ada penjajahan manusia atas manusia. Tanpa ada buku, guru mengancam tidak meluluskan ujian. Dan di sekolah, guru bukan manusia yang disegani lagi, tetapi menjadi monster yang menakutkan, seperti boneka jaelangkung.”
“Lantas apa yang akan kau peroleh, jika sekolah di dalam WC?”.
“Di WC, aku temukan persamaan hak antara si gembel dengan pejabat, Bu. Tak akan ada yang berak mengeluarkan emas atau perak, tapi tai, t-a-i. Ya semua, bukan kelas gembel atau pejabat, semua t-a-i.”
“Terus, selain itu, di dalam WC, tidak akan lagi kutemukan kesejangan miskin atau kaya, sejak kelas pinggiran sampai kelas presiden, tak ada yang berak sambil berdiri, semua jongkok atau duduk.”

Ibu sesaat tersenyum. “Ada-ada saja kau ini, Nak.”

“Kenapa Ibu mesti tersenyum, ini kenyataan lho, Bu.”.
“Iya, Ibu tahu, tapi kok kedengaranya lucu.”
“Memang Bu, ini lucu bagi siapa saja yang tidak pernah berpikir filosofi di dalam WC.”
Ibu makin tertawa; “WC kok dibuat Filosofi.”
“Lho, kenapa tidak, Bu. Aku masih ingat Bu, apa yang Ibu katakan, Nak jadikan setiap mahluk itu guru, dan setiap tempat itu sekolah. Makanya, di dalam WC-pun aku akan sekolah.”

Ibuku makin penasaran, kenapa aku memilih sekolah di dalam WC. Dan saat itu, aku belum tahu benar, apakah Ibu mengizinkanku atau tidak.

“Supaya Ibu tahu, kenapa aku meminta izin sekolah di dalam WC, karena di dalam WC aku merasa terdidik untuk disiplin. Sebab aku tidak akan berlama-lama melamun di dalam WC, kalau mamang aku selesai membuang tai. Sebab, Ibu pernah bilang, Nak, hidup ini tidak akan selesai dengan lamunan. Oleh sebab itu, Bu, aku juga tidak mau berlama-lama di dalam WC. Itu namanya disiplin Bu”
“Karena alasan itu, lalu kau ingin sekolah di dalam WC?”
“Ada lagi, Bu! Di dalam WC, aku dididik untuk tidak menciptakan fitnah. Sebab, setiap aku selesai berak, aku kan harus membersihkan kotoran. Ini artinya sama seperti yang pernah Ibu katakan padaku, Nak jangan sebarkan kotoran dan fitnah dimanapun kamu bermukim.”.
“Dan terakhir, Bu. Ini yang mungkin tidak pernah dirasakan banyak orang.”
“Apa itu?”
“Di dalam WC, aku menemukan kebesaran Tuhan.”.
“Hei, kenapa Tuhan kau bawa-bawa dalam WC!” Ibuku agak tersinggung.
“Jangan marah dulu, Bu. Ibu kan pernah bilang, Tuhan menebar pelajaran dimana-mana. Dan menurutku, di dalam WC pun, Tuhan sedang memberi simbol kebesaran-Nya.”

Sesaat, Ibu menghentikan merajut kain. Keningnya mengerut. Pertanda Ibu masih penuh tanda tanya. Aku menggeser lalu lebih mendekat dari posisi Ibu.

“Begini, Bu, aku tidak bisa membayangkan, berapa besar biaya untuk berobat bagi orang yang dalam tiga hari tidak bisa berak. Akan berapa juta rupiah harus dikeluarkan, jika aku ini tidak bisa mengeluarkan tai dari dalam perut! Makanya, setelah selesai berak, aku ingat kata-kata ibu, Nak sering-sering bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh Tuhan. Dan buatku, satu hari bisa berak satu kali saja adalah bagian kebesaran Tuhan yang patut kunikmati dan kusyukuri. Itulah, Bu, kenapa aku saat ini memilih untuk sekolah di dalam WC. Di WC kutemukan kedamaian, tidak ada protes, tidak ada suap menyuap, tidak ada pertengkaran, yang ada hanya kerelaan untuk duduk sesaat, membuang kotoran, demi kesehatan tubuh kita.”
“Ibu tidak setuju!”

Aku terperanjat.

“Kenapa, Bu, Kenapa?!”
“Jangan kau sekolah di dalam WC, tapi masuklah ke dalam Kakus.”

Aku masih binggung

“Apa bedanya WC dengan kakus Bu.”
“WC ada di setiap tempat termasuk di hotel-hotel dan rumah-rumah mewah, sementara kakus hanya ada di dusun dan pinggir sungai.”.
“Maksud, Ibu?”
“Nak, di dalam WC itu ada tisu, ada mesin pengering tangan, ada sabun, ada sikat dan peralatan moderen, yang banyak diproduksi oleh para pemilik modal.”.
“Lalu?”
“Jangan kita tergantung pada para pemilik modal itu hanya gara-gara soal asesoris WC. Makanya, kalau kamu sekolah di dalam WC nanti akan lupa dengan kedamaian dan kebebasan kakus yang keluar dari ketergantungan. Modalnya hanya penutup kain dan jongkok, lain tidak.”
“Supaya tidak tergantung dengan peralatan WC, aku harus bagaimana, Bu?”
“Ya, rebut pabriknya dan kuasai!”
“Lalu?!”
“Lalu bangun dan tebar kakus di setiap tempat, dan ajari mereka bagaimana membuat alat pembersih kakus. Kalau itu sudah kau rebut, nak, tak akan ada lagi penjajahan manusia atas manusia, tak ada lagi ketergantungan kita pada pemilik modal, kita akan mendiri, dan tiadk akan ada lagi kesenjangan. Yang ada hanya kedamaian, sama seperti kedamaian kita di dalam kakus.”

Aku kaget mendengar ajaran Revolusi WC dari Ibkuu. Aku baru sebatas menyerap Filosofi WC tapi Ibuku sudah sampai pada Revolusi WC.

Tiba-tiba perutku mual.”Aduh Bu, perutku, perutku.”
“Kenapa perutmu, Nak?”
“Aku…aku kebelet Bu. Aku mau ke WC, eh… ke kakus Bu.”
***
Dari dalam WC. Pukul : 03. 59 WIB-Palembang, 4 Mei 2003

cerpen Bu, Ijinkan Aku Sekolah di Dalam WC
Imron Supriyadi

One thought on “Bu, Ijinkan Aku Sekolah di Dalam WC

  1. Tito says:

    Salam Hormat,
    Tulisan yang bagus untuk direnungkan, bagi saya sendiri seorang praktisi kota, sudah menjadi pemandangan sehari2…di dalam mobil AC dan Metromini yang sumpek, atau bahkan penarik Becak…secara spatial hal tesebut terjadi dalam dimensi ruang dan waktu yang sama. Bagi saya, perbedaan itu banyak hikmahnya, ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang beruntung dan ada yang kurang beruntung, dengan adanya GAP manusia bisa mencari keuntungan, contoh: ada yg jijik ngebersihin WC ada juga yg mau ngebersihin WC dan Kakus (namun harus dibayar sepantasnya), dari GAP ini terjadi transaksi.

    Namun Jelas, yang saya tidak setuju ada eksploitasi, jelas eksploitasi ini akan menguntungkan kaum yang membayar…kadang2 eksploitasi ini juga timbul dari persaingan yang tidak sehat antara sesama pembersih WC, antar mereka sendiri mereka mampu merendahkan harga diri mereka untuk dibayar, ataupun malah sekedar dekat dengan Pembayar. akibatnya persaingan harga tidak terkendali, bahkan sampai serrvis menjilati WC dengan lidahnya.

    Kembali lagi ke GAP, gap itu tidak bermasalah jika kita bercampur sesama manusia harus dibiasakan terjadi konflik, ya konflik minor..bukan menghindarinya ketika orang menghindari konflik minor dengan menciptakan batas batas ruang maka dia harus siap siap menuai konflik yang lebih besar (disebut juga Major Social Cost), bukan masalah jika kita sudah mempunyai “fasilitas Standar” yang sama, tinggal fasilitas tambahannya merupakan apresiasi untuk mereka yang memiliki kemampuan lebih, dengan “fasilitas standar” yang sama sangat dimungkinkan dari golongan dibawahnya untuk merangkak naik ke atas.

    Ketergantungan kepada pemilik modal adalah krisis pendidikan; namun di pendidikan Indonesia ini sama sekali tidak mengajarkan pendidikan yang mandiri dan bermental baik, kenapa??? tanya kenapa orang tua begitu antusiasnya mengeluarkan jutaan untuk anaknya agar ikut les ini dan itu untuk masuk ke sekolah favorit????

    Karena, tidak samanya standar (atau rendahnya nilai standar kita) untuk semua sekolah di Indonesia.
    orang tua kita sering juga mengajarkan untuk meranking, ktika rankin di sekolah jelek mereka khawatir akan masa depan kita…dan pertanyaannya, apakah anda begitu terhadap anak anda nantinya?

    Saya juga sudah muak dengan kondisi negara, bahkan salahsatu yang terburuk adalah jika saya harus “terpaksa” menjilati lantai kakus untuk mendapatkan rejeki namun saya masih punya kesadaran….

    wah terlalu panjang,…maaf….

    salam hangat

    G+

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s