Jaga Lingkungan, atasi Demam Berdarah

Hujan mengguyur kota palembang demikian derasnya. Hujan telah turun beberapa kali, sebagai pertanda musim kemarau segera akan berlalu. Nach, waktu antara memasuki musim penghujan dari musim kemarau ini sering disebut masa pancaroba. Di masa pancaroba ini kita wajib untuk berhati-hati loch…! Kenapa? Karena pada masa ini rawan akan hadirnya berbagai penyakit. Dari sakit perut, penyakit kulit, muntaber, diare, demam berdarah, dan demam panas. Gangguan kesehatan ini umum terjadi dimasa pancaroba. Gangguan kesehatan ini berkaitan erat dengan perubahan suhu, frekuensi terjadinya hujan dan kondisi lingkungan yang berkaitan dengan tempat penyimpanan air, saluran sanitasi dan perubahan cuaca. Kali ini kita akan berbagi pengetahuan mengenai penyakit demam berdarah, yang sering terjadi di masa pancaroba. Kita harus tahu mengenai penyakit demam berdarah dan cara menghindarinya, karena kalau kita sakit maka tentu kita tidak bisa ke sekolah untuk belajar, tidak bisa bermain bersama teman dan membuat cemas ayah dan ibu serta saudara kita.

Demam Berdarah itu menakutkan loch…!

nullPenyakit demam berdarah disebabkan oleh gigitan nyamuk, nyamuknya bernama Aedes aegypti, namanya cantik kan? Secantik rupanya yang belang putih. Tapi keberadaannya tak secantik rupanya loch…, gigitan nyamuk ini bisa menghantarkan manusia ke rumah sakit dan tak sedikit yang meninggal karenanya. Menurut Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, nyamuk ini memang endemik Sumatera Selatan.

nullPenyakit demam berdarah atau sering disebut DBD, bisa menyerang siapa saja, dari bayi, anak-anak sampai orang dewasa. Pada tahun 1995 ada 1200 kejadian demam berdarah dan menyebabkan 28 orang meninggal dunia. Di tahun 1996, kejadian demam berdarah memang menurun jadi 907 kejadian tapi yang meninggal lebih banyak mencapai 61 orang! Kemudian pada Tahun 1998 penyakit DBD makin meningkat loch!, oarang yang terkena penyakit DBD mencapai 3.022 orang dan sebanyak 89 orang meninggal. Dan ternyata menurut informasi dari koran kompas, dari sejak taun 1993 sampai tahun 2000 sudah 287 orang yang meninggal (Kompas, Rabu 28 Mei 2003), Menakutkan sekali yach?

Apa sich yang memicu penyakit DBD?

Penyakit DBD yang disebar oleh nyamuk Aedes aegypti ini dipicu oleh kondisi lingkungan yang tidak dikelola dan dijaga kebersihannya dengan baik. Sampah seperti kaleng bekas, wadah plastik yang terbuka, bak penampung air yang tidak dikuras, dan benda-benda lain yang bisa menampung air lainnya yang banyak terdapat di pemukiman, perumahan yang bisa menampung air hujan menyebabkan pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti tumbuh subur, karena nyamuk ini bertelur di air yang tertampung, menjadi jentik dan menjadi nyamuk dewasa, kemudian menyebarkan penyakit melalui gigitannya, dan dalam hitungan jam, bisa menyebabkan badan panas dan kulit berbintik bintik merah, bibir kering, demam panas. Penyakit ini juga bisa menular loch…! nullNach, itulah yang memicu berkembangnya nyamuk penyebar DBD, pola hidup tak sehat dan kebersiahan lingkungan yang tidak terjaga. Kalau saja, lingkungan terawat dengan baik dan sehat, penyakit DBD bisa kita hindari.
Oh iya, nyamuk Aedes aegypti memang tidak suka air kotor loch, nyamuk ini justeru lebih suka ditempat air yang tertampung dan jernih seperti yang ada dalam bak penampungan air atau kaleng bekas. Berapa banyak sich air untuk berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti ? Nggak perlu banyak koq, wadah pipa cekung 0,5 centimeter saja sudah cukup buat nyamuk belang ini berkembang biak. Makanya, di Palembang yang setiap rumah punya wadah menampung air tanpa dikuras, merupakan rumah idaman bagi nyamuk vektor demam berdarah itu.

Gimana yach menanggulangi DBD?

Memberantas nyamuk Aedes aegypti terdapat beberapa cara. Bisa dengan melakukan pengasapan atau fogging, biasanya kegiatan pengasapan dilakukan oleh pemerintah setempat untuk melindungi kota dari nyamuk Aedes aegypti. Penyemprotan ini menggunakan asap yang baunya sangat tidak enak. Jelas dong… cara pengasapan ini mahal, menurut Dinas Kesehatan Palembang dalam koran kompas terbitan rabu 28 Mei 2003, biayanya 182 juta untuk kota palembang saja. Dan tiap satu titik penyemprotan berjarak radius 200 meter mencapai 1 juta rupiah. Wuaaahhh mahal sekali. Ternyata sehat itu memang mahal yach…!. Selain dengan pengasapan bisajuga dengan melakukan 3 M. Apa sich 3 M itu?
Melindungi diri dari DBD dikenal dengan cara 3 M yaitu :
1. Menguras bak penampung air secara rutin
2. Mengubur benda benda bekas yang bisa menampung air seperti kaleng bekas, plastik dan serupanya.
3. Menutup tempat penampungan air.
Nach, cara ini bisa menutup jalan bagi berkembangnya nyamuk Aedes aegypti. Artinya, kebersihan lingkungan patut dipelihara, dan dimulai dari diri sendiri dan saat ini juga, kalau bukan kita sendiri siapa lagi ? dan kalau tidak sekarang kapan lagi? Nanti nyamuknya keburu jadi banyak loch, kalau terus-terusan menunggu orang lain yang melakukan pemeliharaan lingkungan.
Nach, sekarang ayo kita lihat di rumah dan pekarangan dan lingkungan sekitar kita, ada nggak sich yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti? Yuk kita periksa dan singkirkan dengan 3M dan ayo memulai hidup sehat!

Jangan lupa : Menguras Tempat Penampungan Air, Mengubur kaleng dan benda yang tak berguna yang dapat menampung air, dan Menutup tempat penampung air. Ayo… mulai hidup sehat dari rumah kita!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s