Membuat Anak Mandiri

null

ORANG tua mana yang tidak mau melihat anaknya tumbuh menjadi anak mandiri. Tampaknya memang itulah salah satu tujuan yang ingin dicapai orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Sebetulnya sikap mandiri sudah dapat dibiasakan sejak anak masih kecil, dimulai dari hal-hal sederhana, misalnya memakai pakaian sendiri, dan bermacam pekerjaan “kecil” sehari-hari lainnya. Kedengarannya mudah, namun dalam praktiknya pembiasaan ini banyak hambatannya.Memang masalah yang dihadapi anak sehari-hari dapat dengan mudah diatasi dengan adanya campur tangan orang tua. Namun, cara ini tentunya tidak akan membantu anak untuk menjadi mandiri. Ia akan terbiasa “lari” kepada orang tua apabila menghadapi persoalan, dengan perkataan lain ia terbiasa tergantung pada orang lain, untuk hal-hal yang kecil sekalipun.

Tanpa disadari, sikap semacam itu sering kita lakukan pada anak. Pola asuh yang berkembang di masyarakat terbentuk menjadi kebiasaan yang turun temurun.

Menurut Psikolog Alva Handayani, pada umumnya kita lebih sering mendidik anak dengan naluri keibuan. Kepekaan itulah yang dilatih secara turun-temurun untuk bagimana menghadapi anak pertama, kedua, dan seterusnya.

Tak dapat disangkal, dari kebiasaan turun-temurun itu ada pembiasaan-pembiasaan pada anak dari sikap orang tua yang keliru. Setidaknya ditinjau dari aspek psikologis, perlakuan itu membuat semakin berbedanya antara karakter anak sulung, tengah, dan bungsu. Respons pada anak yang berbeda pun akan membedakan hasil. Maksudnya, anak yang dijejali doktrin-doktrin dari orang tua, secara langsung maupun tidak akan lebih mempertimbangkan pilihan orang tuanya. Alasannya, memuaskan harapan orang tua adalah bukti baktinya pada orang yang telah melahirkan dan membesarkannya.

Bila kita bicara lebih jujur lagi, banyak sikap yang mengatasnamakan rasa sayang pada anak, padahal hal tersebut tidak membuatnya mandiri. Untuk itu, ketika mengasuh anak sulung, tengah, maupun bungsu, orang tua hendaknya memahami tahap perkembangan dan pertumbuhan anak. Konsisten dalam bersikap, baik pada si sulung, si tengah, dan si bungsu. Tidak memandang karena ia bungsu maka harus memperlunak sikap.

Selain inkonsistensi yang sering ditemui, sikap pelabelan (menjuluki si sulung, si tengah, si bungsu), juga akan sangat memengaruhi sikap pada anak itu sendiri. Apalagi sampai membanding-bandingkan di antara mereka. Walaupun dengan maksud memotivasi, membandingkan setiap kemampuan anak akan memengaruhi pola pikir dan sikap penerimaan anak pada anggota keluarga lainnya.

Menurut Alva, anak memiliki harga diri yang patut dilindungi. Ketika ia dibandingkan — meskipun dengan dalih memotivasi — maka Anda telah melukai harga dirinya. Bisa jadi kelal anak akan merasa inferior. Tidak hanya berarti anak dibandingkan dengan prestasi/kelebihannya anggota keluarga yang lain, tapi juga bisa berarti dengan anak itu sendiri di saat lain, misalnya membandingkan dengan prestasinya di masa lalu.

**

LALU upaya apa yang dapat dilakukan orang tua untuk membiasakan anak agar tidak cenderung menggantungkan diri pada seseorang, serta mampu mengambil keputusan?

1. Beri kesempatan memilih. Anak yang terbiasa berhadapan dengan situasi atau hal-hal yang sudah ditentukan oleh orang lain akan malas untuk melakukan pilihan sendiri. Sebaliknya, bila ia terbiasa dihadapkan pada beberapa pilihan, ia akan terlatih untuk membuat keputusan sendiri bagi dirinya.

2. Hargailah usahanya. Hargailah sekecil apa pun usaha yang diperlihatkan anak untuk mengatasi sendiri kesulitan yang ia hadapi. Orang tua biasanya tidak sabar menghadapi anak yang membutuhkan waktu lama untuk membuka sendiri kaleng permennya, terutama bila saat itu ibu sedang sibuk di dapur, misalnya.

3. Hindari banyak bertanya. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan orang tua, yang sebenarnya dimaksudkan untuk menunjukkan perhatian pada si anak, dapat diartikan sebagai sikap yang terlalu banyak mau tahu. Karena itu hindari kesan cerewet.

4. Jangan langsung memberi jawaban. Meskipun salah satu tugas orang tua adalah memberi informasi serta pengetahuan yang benar kepada anak, namun sebaiknya orang tua tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Sebaliknya, berikan kesempatan padanya untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tugas Andalah untuk mengoreksinya apabila salah menjawab atau memberi penghargaan kalau ia benar.

5. Dorong untuk melihat alternatif. Sebaiknya anak pun tahu bahwa untuk mengatasi suatu masalah, orang tua bukanlah satu-satunya tempat untuk bertanya. Masih banyak sumber-sumber lain di luar rumah yang dapat membantu untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Untuk itu, cara yang dapat dilakukan orang tua adalah dengan memberitahu sumber lain yang tepat untuk dimintakan tolong.

6. Jangan patahkan semangatnya. Tak jarang orang tua ingin menghindarkan anak dari rasa kecewa dengan mengatakan “mustahil” terhadap apa yang sedang diupayakan anak. Apabila anak sudah mau memperlihatkan keinginan untuk mandiri, dorong ia untuk terus melakukanya. Jangan sekali-kali Anda membuatnya kehilangan motivasi atau harapannya yang ingin dicapainya.

Sumber : http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/0503/24/hikmah/lainnya06.htm

One thought on “Membuat Anak Mandiri

  1. Salam kenal..
    Nama saya Kak Zepe,..Saya penulis lagu anak..
    Juga penulis artikel2 parenting, dan pendidikan kreatif. lagu anak, dan dongeng pendidikan…
    Semua karya saya ada di http://LAGU2ANAK.BLOGSPOT.COM
    Mari bertukar link…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s