Mengenal Primata yuuuk…!

Mengenal Macaca Siberut di Kepulauan Mentawai.

null

Penduduk asli kepulauan Mentawai mengenal nama Bokkoi dan Siteut sebagai makaka yang berlainan jenis. Bokkoi mendiami pulau Siberut sedangkan Siteut tersebar di pulau-pulau di sebelah selatan seperti Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan. Pemberian nama ini nampaknya bukan disebabkan oleh adanya perbedaan dialek bahasa, namun berdasarkan prinsip-prinsip yang oleh pengetahuan modern dinamakan ilmu taksonomi.
Sekitar 2000-3000 tahun yang lampau ketika nenek moyang mereka mulai menetap di kepulauan Mentawai ini, sejak saat itulah mereka mulai mengenal dan mencandra satwa-satwa yang menjadi bagian dari lingkungannya. Para pemburu tradisional Mentawai dengan jelas mengenali dan membedakan Bokkoi dan Siteut berdasarkan ciri-ciri morfologis. Yaitu warna tubuh, bentuk ekor dan tanda khas bagian muka. Bokkoi dicandra sebagai makaka yang tubuhnya diselimuti oleh bulu-bulu berwarna gelap dengan kedua pipinya terdapat bercak bulu berwarna putih. Bercak putih ini sangat khas mengingatkan kita pada salah satu gaya rambut anak muda sekarang. Selain itu ukuran ekor yang pendek dengan ujung melengkung ke arah atas. Berbeda halnya dengan siteut, makaka ini berbulu coklat gelap pada bagian punggung sedangkan coklat pada bagian tungkai dan lengan. Kedua pipi berwarna kuning pucat. Ekornya pendek tapi melengkung ke arah bawah.

Pengetahuan lokal Mentawai ini oleh para ilmuwan modern kemudian justru dijadikan titik tumpu studi-studi taksonomi primata Mentawai. Pada mulanya di tahun 1903, seorang ilmuwan mengusulkan Macaca pagensis sebagai nama spesies baru makaka yang wilayah penyebarannya seluruh kepulauan Mentawai. Studi tersebut didasarkan koleksi spesimen yang sangat terbatas asal pulau Pagai.

Setelah hampir tiga perempat abad kemudian, pada tahun 1975 beberapa ilmuwan justru mengusulkan makaka Mentawai kedalam spesies Macaca nemestrina atau beruk. Perbedaannya hanyalah pada sub spesies M. n. pagensis. Studi tersebut didasarkan pada warna tubuh, ukuran tengkorak dan kenampakan bentuk ekor.

Belakangan antara tahun 1995-2001 para ilmuwan yang secara intensif melakukan studi morfologis menyadari bahwa ada perbedaan yang jelas antara makaka Mentawai dan beruk, bahkan antar populasi makaka yang mendiami pulau-pulau yang berlainan. Oleh karena itu, para ilmuwan selanjutnya mengusulkan kembali ke nama awal, M. pagensis dan membagi dalam dua sub spesies yang berbeda. Kedua sub spesies tersebut adalah M. p. pagensis yang mendiami gugusan kepulauan Mentawai bagian selatan seperti Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan, dan M. p. siberu, yang mendiami pulau Siberut.

Namun demikian keberadaan M. pagensis yang merupakan salah satu primata endemik Mentawai dipandang masih menyisakan pertanyaan-pertanyaan besar yang berkaitan dengan status taksonomi dan sejarah evolusinya.

Akhirnya tepat satu abad sejak dikenalnya M. pagensis dalam khasanah ilmu pengetahuan modern, sekelompok ilmuwan dari Pusat Primata Jerman (DPZ), mencoba meneliti lagi berdasarkan kajian genetika molekuler. Sampel-sampel yang dikumpulkan dari faeses makaka populasi alam dianalisis urutan bagian dari gen sitokrom b mitokondria dan dibandingkan antar populasinya.

Hasil yang mengejutkan dari studi taksonomi adalah kekerabatan dari Bokkoi atau M.p. siberu, yang mendiami pulau Siberut, ternyata lebih dekat dengan beruk atau M nemestrina nemestrina dari pulau Sumatra. Padahal keduanya terpisah oleh laut sekitar 130 kilometer. Sedangkan Siteut atau M. p. pagensis, yang habitat paling dekatnya dengan bokkoi hanya berjarak sekitar 25 kilometer arah selatan, justru berkerabat relatif jauh.

Hubungan filogenetik dua populasi makaka Mentawai yang ternyata berasal dari nenek moyang yang berlainan adalah temuan yang mengejutkan. Temuan yang didukung oleh data yang akurat ini mematahkan asumsi sebelumnya dimana kedua makaka Mentawai dianggap berasal dari nenek moyang dekat yang sama diluar nenek moyang makaka lainnya termasuk M. n. nemestrina.

Oleh karena itu para ilmuwan DPZ yang dipimpin oleh Dr. Roos kemudian mengusulkan pemisahkan makaka Siberut dengan Sipora, Pagai Utara dan Selatan kedalam dua spesies yang berbeda, yaitu Macaca siberu dan Macaca pagensis. Dari kajian taksonomis tersebut, kedudukan Macaca siberu menjadi menarik karena merupakan species baru. Kedudukan M. siberu juga menambah panjang daftar primata dunia.

Pembahasan lebih mendalam tentang makaka Mentawai menjadi lebih menarik ketika masuk pada persoalan bagaimana asal-usul Bokkoi dan Siteut berbeda nenek moyang itu. Semula kedua spesies tersebut diduga memiliki nenek moyang dekat yang sama dan mengikuti penyebaran yang sejalur.

Dugaan utama sejarah penyebaran makaka Mentawai sangat terkait dengan fluktuasi permukaan air laut antara periode zaman es dan antar zaman es. Kejadian tersebut berlangsung antara 5 sampai 1 juta tahun yang lampau. Saat zaman es ekstrem permukaan air laut diperkirakan lebih rendah sekitar 200 meter dibandingkan dengan kondisi sekarang. Pada masa itu penyebaran makaka proto silenus yang menjadi nenek moyang kelompok makaka ekor pendek tengah berlangsung oleh terbentuknya jembatan darat melewati kepulauan Batu di sebelah utara Siberut. Penyebaran makaka gelombang pertama itu meliputi seluruh Mentawai, bukan hanya Siberut saja.

Sejalan dengan berakhirnya zaman es dan mulainya periode antar zaman es, berakhir pula aliran populasi proto-silenus ke Mentawai. Saat itu permukaan air laut kembali naik. Akibatnya jembatan darat kembali terendam. Sejalan dengan proses isolasi tersebut munculah populasi baru yang disebut proto- pagensis atau nenek moyang dari M. pagensis di kepulauan Mentawai. Sedangkan di Sumatra sendiri terbentuk populasi proto-nemestrina atau nenek moyang M. nemestrina.

Ketika zaman es berikutnya terjadi lagi, penyeberangan makaka gelombang keduapun kembali berlangsung. Berbeda dengan penyebaran gelombang pertama, aliran populasi yang berperan kali ini adalah proto-nemestrina bukan proto-silenus. Perbedaan lainnya adalah penyebaran tersebut hanya sampai di pulau Siberut saja, tidak diikuti penyebaran ke tiga pulau lainnya di sebelah selatan. Hasilnya, paska zaman es munculah populasi terisolir di Siberut yang dikenal dengan sebutan proto-siberu atau nenek moyang M. siberu. Sedangkan di Sumatra memasuki satu langkah lagi evolusi makaka yaitu proto-nemestrina nemestrina atau cikal bakal M. nemestrina nemestrina, beruk Sumatra.

Persoalan yang timbul kemudian adalah mengapa penyebaran makaka pada gelombang ke dua hanya di Siberut. Bagaimana mungkin terjadi jembatan alam antara Sumatra dan Siberut saja, sedangkan jeluk dasar laut pulau-pulau di Mentawai sebelah selatannya tidak berbeda.

Salah satu kemungkinan yang terjadi adalah terkait dengan periodisasi waktu penyebaran. Gelombang pertama penyebaran diperkirakan berlangsung 2,2 juta tahun yang lampau. Saat itu proto-pagensis menyebar ke seluruh kepulauan Mentawai. Baru pada saat penyebaran gelombang kedua, yang diperkirakan 1,1 juta sampai1,3 juta tahun yang lalu, proto-siberu di Siberut baru muncul. Proto-siberu tidak sempat menyebar ke Mentawai bagian selatan karena periode paska zaman es mulai berlangsung lagi, permukaan air laut keburu naik lagi. Namun demikian dugaan ini tetap menyisakan banyak pertanyaan dan terbuka perdebatan akademik lanjutan.

Usulan spesies baru, M siberu, pada dasarnya telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Molecular Phylogenetics and Evolution 2003. Namun dibandingkan dengan penemuan makaka di India, Macaca munzala, yang dipublikasikan secara luas di beberapa media masa Indonesia, justru kebalikkannya untuk Macaca siberu. Institusi-institusi nasional yang berkepentingan atas keberadaan spesies baru inipun nampak tidak cukup tanggap dan antusias. Bahkan sampai saat inipun tidak terdengar diskusi dan pembahasan ilmiah atas penemuan spesies mammal besar tersebut di tanah air.

Mengacu kepada teori Island Biogeography-nya Macarthur dan Wilson, Mentawai dapat dianggap sebagai salah satu laboratorium alam penting untuk mempelajari terjadinya proses evolusi. Sama pentingnya ketika kita menyebut pulau Galapagos dan Madagaskar. Bahkan dalam bidang studi Primata, Mentawai yang kini dengan lima spesies primata endemik (termasuk Presbytis potenziani, Simias concolor dan Hylobates klossi) menduduki urutan teratas endemisitas primata dunia, yakni 1400 km2 per spesies.

Sebagaimana Galapagos dan Madagaskar yang menjadi tujuan penting riset-riset bertaraf internasional, maka seberapa besar ilmuwan kita melihat peluang dan terlibat aktif di dalam riset alam di Mentawai. Yang pasti Mentawai bukan cuma arena selancar dan ladang pembalakan kayu.

Akhirnya pesan dibalik penemuan spesies baru ini adalah jelas. Bahwa M. siberu, sebagaimana halnya dengan M. pagensis adalah bagian dari kekayaan alam planet bumi yang „kebetulan” hidup endemik di Mentawai. Bagi masyarakat Mentawai, pengetahuan nenek moyang mereka yang sedikit banyak telah menjadi peletak dasar pengetahuan ilmuwan modern adalah suatu kebanggan budaya tersendiri. Ibaratnya, keberadaan Bokkoi, Siteut serta sekian banyak satwa endemik lainnya adalah menunjuk mengapa ada kepulauan dan penduduk asli Mentawai.//

Sumber :
http://www.conservation.or.id/tropika.php?catid=52&tcatid=376&page=g_tropika.index

Di Rumah Baca Liana, ada majalah Tropika loch, kiriman dari pak Fachrudin M. selain itu juga ada modul bermain dari Paman Edy Hendras.

5 thoughts on “Mengenal Primata yuuuk…!

  1. Koen says:

    Infonya menarik. Nggak banyak yang tahu tentang beruk mentawai. Wah jadi pengin ke Mentawai. Soalnya tahun kemarin nggak jadi he..he..he

  2. afif says:

    benar….

    indonesia gak peduli dengan keanekaragaman hayati yang mereka punya..
    apalagi spesies endemik seperti ini…

    merek cuma tahu…kebun sawit, karet, penambangan..pembalakan dst..
    gak ada habisnya..

  3. rama says:

    kenapa y pemerintah gag 5w tw n gag 5w mencari spesies2 yg da di Indonesia………………..?????????? padahalkan indonesia kaya akan hewan spesies langka example:tangkasi i2 primata yg hanya da di indonesia n sangat langka…………..n knp juga msyarakat indonesia gag 5w menjaga lingkungan mereka…………..?????????????????????????????????

  4. qieyyah says:

    keren hewan langkah banyak koruptornya jg banyak jd g keurus deah hewan langkahnya

  5. dian rosta says:

    yap mang sangat di sayangkan pemerintah ga pernah melek mata untuk menjaga segala potensi kekayaan alam indonesia yang sangat luar biasa kaya ini lho.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s