Water is Every Where

Seorang pendeta dari negeri Belanda menjuluki tanah Sumatera Utara dengan sebutan Eden Land atau tanah surga. Julukan tersebut tampaknya tidak berlebihan, jika anda menyusuri jalan jalan antar kabupaten dalam provinsi itu, maka anda akan dihadapkan pada gugusan pepohonan, hamparan sawah, ladang yang menghampar subur nan hijau dan di selusupi oleh belahan ruas bumi yang dialiri air .

******
Saya mendapat kesempatan mengunjungi tanah Tapanuli pada pertengahan Desember 2008. Perjalanan dimulai dari kota medan menuju Padang sidempuan, kira kira memakan waktu 10 jam tentunya termasuk istirahat dan mengisi perut kala lapar. Dalam perjalanan menuju Padang Sidempuan yang terletak di Tapanuli Selatan melewati tebing-tebing tinggi yang diatasnya terdapat gugusan pohon pohon. Saya juga melihat beberapa sungai dan mata air yang merembes dari celah tebing, dan celah bebatuan. Ketika hendak memasuki Tapanuli Selatan saya melewati Danau Toba, danau terbesar di Indonesia dengan sebuah pulau di tengahnya, Pulau Samosir. Dari dalam mobil, saya bisa melihat kapal, bangunan di pinggiran danau dan orang orang yang hilir mudik menikmati pesona danau.

Perjalanan berhenti di Padang Sidempuan, saya beristirahat untuk mempersiapkan stamina melanjutkan perjalanan. Hari kedua, saya mengunjungi beberapa desa dalam Kabupaten Tapanuli Selatan. Desa pertama dikunjungi adalah Desa Aek Nabara Jae Manaon, kemudian Desa Aek Nabara, Desa Tj. Rompa, Desa Bonan Dolok, Desa Haunatas, Desa Siranap. Dalam perjalanan mengunjungi desa tersebut tidak terhitung jumlah mata air yang saya lewati. Mata air merembes dimana mana, dari celah bebatuan yang tersusun alami di tebing, saya juga menemukan mata air yang juga mengalir memercik kecil namun tegas menghentak bebatuan, ada pula mata air yang merembes diantara rimbunnya rerumputan, mata-mata air lainnya tampak mengalir malu malu di sela sela akar akar pohon, bahkan ada mata air yang dengan berani dan menantang menghempaskan butirannya dari atas tebing dan menimbulkan gemercik kencang yang terdengar sangat indah, gemercik yang menyanyikan syair kehidupan, air sumber kehidupan.

Hari ketiga di Tapanuli Tengah dan hari keempat di Tapanuli Utara, kondisi tetap sama, saya mendapati mata-mata air dimana mana, mengalir segar, jernih dan menggairahkan. Dari Tapanuli Utara berbalik ke Tapanuli tengah, mata mata air menyatu dalam air terjun kecil saya jumpai sepanjang perjalanan. Gemerciknya yang indah dan rasanya yang segar seolah mematri sebuah kenyataan bahwa paling tidak masyarakat di Tapanuli takkan kekurangan air apalagi jika sumber sumber air itu dijaga dan dipelihara. Semoga simpanan air itu akan tetap dirasakan dan menghidupi anak cucu dimasa depan.

salah satu mata air di tanah Tapanuli

2 thoughts on “Water is Every Where

  1. nordin says:

    Pasti julukan Eden Land itu diberikan zaman Fir’aun dulu. Kalau sekarang, apalagi sesudah bermacam bencana ekologi dan bencana alam, mereka akan menyesal memberikan julukan itu.
    Belum lagi hamparan apdang sawit dan HTi di seluruh Sumatera yang monokultur…
    Kalau saya pemberi julukan itu, pasti akan saya revisi menjadi tanah sengsara deh…

  2. ! Bella ! says:

    Tapi semoga Tuhan selalu memberikan hidayah kepada manusia agar selalu menjaga alam.. Itu juga kan termasuk norma agama..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s